Wardatudtiflah “Manfaatkan Waktu Luang Untuk Bisnis”

IMG_20160812_115931TIDAK semua orang mempergunakan waktu luang untuk berbisnis. Namun bagi Wardatuttiffla, wanita kelahiran Meunasah Peudeuk 19 November 1993 ini, kesengangannya adalah dengan memanfaatkan waktu luang dengan adanya aktifitas.

Wanita ini senang berkreasi, terutama produk hand made. Berkat pemikiran yang kreatifnya, ia mampu mendulang pemasukan melalui kreasinya sendiri. “Awalnya aku hanya buat untuk sendiri, seperti baju, rok, jilbab yang aku pakai waktu aku kuliah di Pertanian, ternyata banyak kawan-kawan kampus yang tertarik,” ujar alumnus Pertanian Unsyiah Prodi D3 Managemen Agribisnis. Selanjutnya sejak tahun 2012, ia melanjutkan kuliahnya di Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dengan memilih Konsentrasi Tata Busana.

Bermodal ketrampilan yang dimiliki sejak kuliah ia mulai kegiatan menjahit, dan hasil usaha menjahit busana, kini Warda, sapaan akrabnya telah melahirkan usaha “Wrdcreation” sejak Januari 2016 yang beralamat di Lambaro Skep, Banda Aceh.

Melalui bantuan gadget, Warda memamerkan produk-produk kreasinya sendiri, wrdcreation menawarkan banyak produk hand made diantaranya, Slempang Wisuda, Busana  pesta muslimah dewasa, anak-anak, pasang payet, dan busana khusus yang disewakan.

“Selalu bermimpi harus pandai untuk sukses dengan cara tidak harus dengan modal besar, kalau menunggu modal besar, berpikir jadi orang kaya banyak uang mau berusaha apa pun akan sulit, karena tidak didasari niat sungguh-sungguh,” kata Warda.

Sejak sekolah di MTsN Trienggadeng, Warda memang terlihat mencintai penghijauan, tanaman dan sebagainya yang berhubungan dengan sains,Nnamun, minatnya mulai berubah sejak ia selesai sebagai alumnus MAN Trienggadeng. Ia mulai mencintai dunia fashion.

Menjalani dua program pembelajaran bersamaan tidak mengendurkan semangat Warda untuk menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Warda membuktikan bahwa ia mampu menyelesaikan studi Managemen Agribisnis dalam kurun waktu 2,8 bulan di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, dan saat ini penyelesaia akhir penyusunan Skripsi di Program Studi PKK FKIP Unsyiah.

Melakoni bisnis berbasis hobbi ini membuat Warda semakin tertantang dan semangat, Ia memulai usaha dengan sistem order, karena melihat modal yang sedikit namun pasti. Warda memutar otak untuk dapat mengulang-ulang modal untuk mengeluarkan produk baru yaitu Slempang Wisuda yang dijual mulai dari Rp 85 ribu-125 ribu rupiah.

Hingga kini produk baru yang ia keluarkan terus berkembang. Terbukti dari banjirnya pemesanan Slempang setiap bulannya, pemesanan Slempang hampir tidak terputus setiap harinya. “Pernah pemesanan dalam sehari 40 slempang, tergantung kondisi kalau lagi musiman sidang, yudisium, wisuda sampai segitu, tapi kalau lagi sepi sehari pernah ada cuma tiga slempang saja,”

Wanita hitam manis ini, telah mensponsori beberapa event di Banda Aceh, seperti Demo Hijab Syar’i yang disponsori dengan beberapa hijab berlabel gallerynya Wardatuttifflah, dan mensponspri Slempang pada event Gaya Busana Muslimah Benuansa Aceh 2016 pada Mahasiswa Tata Busana FKIP Unsyiah.

“Warda melihat orang-orang Medan waktu wisuda pakai slempang nama, kalau ada acara menarik juga biasa pakai slempang nama. Sampai di Aceh, mencari-cari tau gimana cara buatnya, pakai apa dituliskan namanya,” ujar Warda anak kedua dari lima bersaudara ini.

Ia mejelaskan, “Ternyata cara membuat dengan bordiran komputer, sehingga Warda cari kemana-mana tempat untuk bisa ngebordir slempang ini. Perjuangan mencari pembuat slempang ini sedikit berat, karena ada beberapa pengrajin bordir yang menolak,” katanya lagi. Namun berkat usaha keras, akhirnya berhasil juga.

Pemesanan slempang biasanya siap dalam jangka 4-5 hari. Hal ini dilakukannya untuk menghindari resiko ketiadaan bahan pembuatan Slempang,” Persiapan slempang ini dilakukan seorang diri oleh Warda, pengrajin bordir hanya sebagai pembuat tulisan nama dan tittle pada Slempang. Sementara finishing, yaitu penyelsaian akhir Slempang Warda tuntaskan sendiri. “Semua aku lakuin sendiri, termasuk pasangan renda atau hiasan pinggiran slempang, aku bawa ke pengrajin bordir cuma untuk bordir nama sama tittlenya saja,” jelas Warda, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Tidak butuh waktu lama dalam mencari tahu keunikan dalam menciptakan Slempang, Warda mulai berpikir kritis menciptakan Slempang-slempang unik dan berbeda dari orang lain, setiap orang yang memesan Slempang dari warda memiliki label gallery sendiri yaitu wardatuttifflah, “Karena itu sebagai ciri khasku, Slempangku  berbeda dari orang lain, punya label, nama gallery sendiri, tulisannya (Slempang) sesuai dengan permintaan konsumen, dan berharap usaha ini terus berjalan sampai aku memiliki modal membuka WO (Wedding Organizer)” ujar Warda

Pelanggan yang paling banyak dalam pemesanan  slempang ini area Banda Aceh/Aceh besar adalah FKEP, Kedokteran, FKIP, Teknik, Hukum, Ekonomi, FKG, FKH, serta Fakultas Pertanian Unsyiah. Selain itu juga yang di luar Aceh, di Aceh Utara, Unimal (Universitas Malikussaeh), di Aceh Selatan Politeknik Aceh Selatan, Universitas Serambi Mekah, Akademi Gizi, Akbid Mona Banda Aceh.

Dengan promosi sederhana dari mulut ke mulut pemesanan pun meningkat, awalnya yang hanya satu pemesan, sekarang bisa mencapai puluhan pemesan slempang perharinya. “Jadi selain di Banda Aceh, Aceh Besar, pemesanan ini juga Warda salurkan sampai ke luar Aceh, yang terpenting dari pagi bangun tidur sampe malam tidur kembali tetap bersemangat” tutupnya.

Selamat Warda, semoga usahanya semakin lancar…

395 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − five =